Friday, March 30, 2012

OUTBOUND TRAINING Nabz Outbound Jogja

OUTBOUND TRAINING Nabz Outbound Jogja

Metode Experiential Learning dipercaya bukan hanya merupakan sebuah trend dalam metode pelatihan, namun telah dikaji sebagai suatu metode yang paling efektif dalam mengakomodasi kebutuhan / tuntutan terhadap hasil suatu pelatihan.

Guna mencapai tujuan dan mengoptimalkan metode pelatihan diatas, media Outdoor Activities atau yang juga dikenal dengan Outbound Training merupakan pilihan yang tepat.

Dengan konsep-konsep interaksi antara peserta dan dengan alam melalui kegiatan simulasi di alam terbuka diyakini dapat memberikan suasana yang kondusif untuk membentuk sikap, cara berpikir dan persepsi yang kreatif dan positif dari setiap peserta guna membentuk rasa kebersamaan, keterbukaan, toleransi dan kepekaan yang mendalam, yang pada harapannya akan mampu memberikan semangat, inisiatif, dan pola pemberdayaan baru dalam perusahaan anda melalui simulasi Outdoor Activities ini peserta juga akan mampu mengembangkan potensi diri, baik secara individu (Personal Development) maupun dalam kelompok (Team Development) dengan melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi yang efektif, manajemen konflik, kompetisi, kepemimpinan, manajemen resiko, dan pengambilan keputusan serta inisisatif.

Personal Development
Merupakan program pelatihan yang intensif dalam rangka pengembangan pribadi (personal) dengan menggunakan media pembelajaran luar ruang (outdoor). Dalam program ini akan diterapkan usaha terarah untuk penggunaan kesempatan belajar yang aktif demi memperkuat perubahan di dalam organisasi melalui pembelajaran individu
Didalam pelatihan ini peserta akan dibekali dengan pengetahuan dan strategi yang berguna khususnya dalam hal:

1. Dengan kemampuan yang sudah ada saat ini, peserta diharapkan dapat meningkatkan dan menggali potensi diri yang belum disadari

2. Pembelajaran terhadap nilai-nilai tersebut dilakukan melalui experiential learning sehingga peserta akan lebih memahaminya.

3. Meningkatkan kemampuan kepemimpinan peserta, antara lain dalam kerjasama team, komunikasi internal maupun eksternal yang efektif, dan pengambilan keputusan

4. Meningkatkan kemampuan berpikir 'liar' dalam memahami dan mengatasi setiap masalah.

5. Memberikan pengalaman yang menarik dan menantang sebagi pembelajaran dalam menghadapi pekerjaan sehari-hari.
Materi dan Kegiatan yang diberikan semuanya mengandung manfaat manajerial sehingga akan didapat pengalaman-pengalaman yang berguna dalam pekerjaan sehari-hari seperti:

1. Mengoptimalkan keeikutsertaan karyawan dalam semua kegiatan acara

2. Menambah rasa percaya diri dalam melaksanakan tugas yang diberikan

3. Meningkatkan kepekaan karyawan terhadap masalah sesama dalam perusahaan

4. Memahami peran & fungsi serta tanggung jawab masing-masing dalam pekerjaan

5. Menjadikan individu dalam perusahaan lebih siap terhadap perubahan dan perkembangan dunia usaha .
Diantara materi yang diberikan, para peserta juga akan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman praktis guna mengembangkan potensi diri dalam hal: self confidence, leadership dan self motivation.
Team DevelopmentMerupakan program-program pelatihan yang intensif dalam rangka pengembangan kerjasama kelompok (team work) dengan menggunakan media pembelajaran luar ruang (outdoor) . Dalam program ini akan diterapkan usaha pembelajaran individu sebagai bagian dari suatu team. Peran Team dalam memecahkan masalah (problem solving) dan juga dinamika suatu kelompok kerja.
Didalam training ini peserta akan dibekali dengan pengetahuan dan strategi yang berguna khususnya dalam hal:

1. Memahami perbedaan dalam kelompok

2. Keterbukaan sikap (self-disclosure)

3. Memberi dan menerima umpan-balik (feedback)

4. Memahami lebih jauh manfaat dan pentingnya bekerja-sama dalam tim

5. Mengetahui prinsip kerja Team Work yang Sinergis

6. Mempersiapkan peserta untuk menerapkan asas-asas kerjasama kelompok dan budaya baru (encounter culture) dalam unit organisasi masing-masing

7. Identifikasi masalah-masalah kerjasama antar-fungsi dan antar-lapisan organisasi serta rencana perbaikannya

8. Menetapkan langkah yang tepat untuk mengatasi berbagai situasi sulit dalam team

9. Mengetahui faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dan dievaluasi dalam pembentukan Tim yang solid, pemilihan personil dan mengatasi hambatan yang biasanya terjadi dalam Tim

10. Mengetahui bagaimana mengevaluasi team performance dan mengarahkan perbaikan-perbaikan guna efisiensi & efektifitas tim selanjutnya

11. Meningkatkan kepekaan karyawan terhadap masalah sesama dalam perusahaan

12. Komitmen terhadap tujuan tim dengan antusias, saling memberi informasi dan pengalaman

13. Terbentuknya suatu tim yang solid dengan kinerja yang efektif yang mengahasilkan outcome yang maksimal dalam pencapaian tujuan perusahaan 
Pada kesimpulannya, setiap aktivitas yang ada dalam pelatihan ini baik berupa diskusi ( indoor-class ) maupun kegiatan simulasi di luar ruang (outdoor) merupakan experiential activities yang ditargetkan secara specifik untuk memahami pembentukan dan membangun suatu tim (team building) dalam rangka meningkatkan pencapaian tujuan tim dan pada akhirnya mengahasilkan outcome yang maksimal dalam pencapaian tujuan perusahaan.





DISAIN PROGRAM PELATIHAN
Berdasarkan metodoe pelatihan diatas, disain program yang kami susun adalah bertahap meliputi:

Kerangka Dasar Pelatihan:• Pengarahan (Briefing)• Pemahaman akan misi (Mission Assesment) dan Perencanaan (Planning)• Pelaksanaan Aktifitas (Action) dan Refleksi (Reflection)• Evaluasi (Evaluation)• Penyimpulan (Debriefing)

Aktifitas
Luar Ruang (outdoor) dengan dasar:
• Permainan berstruktur
• Skenario yang beralur
• Aturan main, sangsi dan penghargaan
• Penghitungan prestasi (scoring)
Dalam Ruang (indoor)• Ceramah Singkat & Diskusi
• Diskusi
• Indoor Games
FASILITATOR
Dalam kegiatan pelatihan dengan media outdoor , Nabz Outbound jogja, menerapkan standar kompetensi yang memadai meliputi:

Instruktur & Fasilitator (Trainer)• Para trainer yang berkompetensi dalam bidang pelatihan baik indoor maupun outdoor

Tenaga Medis (Paramedics)
• Tersedianya para tenaga medis yang berpengalaman dalam setiap kegiatan pelatihan

Instruktur High Impact Games
• Para instruktur yang berkompetensi dalam bidang kegiatan luar ruang (outdoor) yang di dukung dengan peralatan (equipment) yang memenuhi standard keamanan
• Selalu memprioritaskan masalah keamanan bagi setiap peserta dalam setiap kegiatan


FASILITAS
Dalam memfasilitasi kegiatan pelatihan ini, Nabz Outbound jogja meyediakan:
• Design Program
• Instruktur & Fasilitator
• Psikolog/Oberver
• Peralatan & Perlengkapan
• Simulasi Interaktif (outdoor games)• Akomodasi
• Konsumsi
• Transportasi
• Photo/Dokumentasi
• Laporan (Review)• Dan lain lain disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan pelatihan.


BIAYA PELATIHAN
Biaya yang akan timbul atas penyelenggaraan kegiatan pelatihan ini didasarkan atas jumlah peserta serta jenis akomodasi yang dipilih sesuai keinginan klien, yaitu dengan fasilitas akomodasi yang dipilih, pada prinsipnya harga merupakan kesepakan untuk mewujudkan keberhasilan bersama.
Biaya yang dikeluarkan perusahaan guna penyelenggaraan acara ini sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang dalam hal Sumber Daya Manusia dalam tubuh perusahaan itu sendiri. Karena keuntungan yang didapat dari kegiatan ini kembali lagi kepada perusahaan berupa peningkatan kinerja para karyawan serta pembentukan team kerja yang solid yang pada akhirnya akan meningkatkan pencapaian tujuan perusahaan.


LOKASI PELATIHAN
Dengan kandungan materi yang sarat nilai pembelajaran melalui media outdoor, kami sangat menganjurkan agar kegiatan outbound training ini dapat dilaksanakan diareal yang representatif, yang dapat mengoptimalkan kegiatan pelatihan agar mampu mencapai tujuan yang diinginkan dengan baik, areal yang mampu mengakomodasi segala jenis kegiatan yang akan dilakukan, dalam hal ini areal tersebut merupakan sebuah kawasan pelatihan yang menyediakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan, meliputi:

• Areal terbuka yang cukup luas guna pelaksanaan outdoor activities• Areal tertutup guna pelaksanaan indoor activities• Tersedianya fasilitas permainan High Impact Games sebagai salah satu media peningkatan Self Confidence. setiap peserta pelatihan (disesuaikan dengan keinginan klien).
• Yang juga tidak kalah pentingnya adalah masalah privacy agar peserta dapat berkonsentrasi penuh pada. kegiatan tanpa terganggu oleh pengunjung umum.



DURASI PELATIHAN
Lamanya waktu pelatihan pada dasarnya disesuaikan dengan keinginan klien, namun untuk hasil yang optimal, program pelatihan ini membutuhkan waktu efektif selama (3 Hari / 2 Malam), yang secara umum jumlah jam tersebut terdistribusi dalam kegiatan kegiatan sebagai berikut:

• Diskusi & Indoor Games: 35%
• Outdoor Activities: 65%


PESERTA PELATIHAN
Dengan didasarkan pada kandungan materi pelatihan dan tujuan pelatihan, sasaran kegiatan pelatihan ini adalah meliputi: Supervisor hingga Top Manager.

Judul: OUTBOUND TRAINING Nabz Outbound Jogja
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Thursday, March 29, 2012

Manfaat Outbound - Nabz Outbound jogja

Nabz Outbound jogja, Dewasa ini dunia sedang dilanda outbound. Sehingga hanya dengan melakukan fling fox, sudang dianggao ikut outbound. Masih banyak yang belum mengerti tentang duni a outbound. Outbound terdiri dari beberapa macam / jenis.

Apapun jenisnya, outbound—dengan berbagai jenis petualangan (adventure) dan permainan (games) yang biasa dijalankan—sebenarnya memiliki manfaat yang beragam, di antaranya:
(1) komunikasi efektif (effective communication)
(2) pengembangan tim (team building)
(3) pemecahan masalah (problem sulving)
(4) kepercayaan diri (self confidence)
(5) kepemimpinan (leadership)
(6) kerja sama (sinergi)
(7) permainan yang menghibur dan menyenangkan (fun games)
(8) konsentrasi/fokus (concentration)
(9) kejujuran/sportivitas.
Ragam manfaat tersebut bermuara pada tercapainya pengembangan diri (personal development) dan tim (team development) yang dapat dirasakan oleh para peserta. Karena sukses seseorang dalam kehidupannya, terutama dalam karier bisnis dan organisasi, sangat ditentukan oleh kepercayaan diri (self efficacy), kemampuan mengontrol emosi, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Para pakar di bidang kecerdasan emosi berpendapat bahwa sukses dalam karier di perusahaan (juga di ranah kehidupan lainnya) lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional dibandikan dengan kecerdasan intelektual. Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan kecerdasan emosional mendapat perhatian yang semakin besar.

Ada beberapa ciri yang menandai apakah seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik. Ciri-ciri tersebut, antara lain, adalah sebagai berikut:
  1. Mentalitas Berkelimpahan (abundance Mentalitaty)
Sifat kepribadian ini dimiliki oleh orang yang suka membagi-bagi apa yang dimiliki kepada orang lain. Orang yang demikian selalu meras bahwa dengan memberikan apa yang dia miliki kepeda orang lain akan membuat dia merasa lebih kaya. Sifat ini adalah lawan dari mentalisasi yang pelit (scarcity mentality). Orang yang memiliki sifat pelit selalu ketakutan dan dia tidak akan mendapatkan sesuatu bila orang lain sudah mendapatkannya.
  1. Pikiran Positiv pada Orang lain
Bila seseorang memiliki sifat ini, dia akan melihat orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan hidupnya sendiri. Selain itu dia selalu melihat sisi positiv hal-hal yang dilakukan dan dipikirkan oleh orang lain. Covey (1990) menggunakan istilah “seek first to understand than to be understood” (berusaha mengerti orng lain lebih dahulu baru diri sendiri dimengerti). Orang yang memiliki sifat kepribadian ini tidak akan segera menarik kesimpulan tentang apa yang dikatakan orang lain sebelum dia mengerti apa yang dipikirkan oleh orang lain.
  1. Kemapuan Berempati
Sifat ini dimiliki oleh orang yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kepekaan perasaan yang dimilikinya membuat dia mudah merasakan kegembiraan dan kesusahan orang lain. Orang yang tidak memiliki kemampuan berempati biasanya sangat sulit untuk berhubungan baik dengan orang lain. Perasaannya tumpul dalam memahami kebutuhan orang lain.
  1. Komunikasi Transformasional
Sifat ini dimiliki oleh orang yang selalu memilih kata-kata yang enak didengar telinga dalam berbicara pada orang lain, dia tetap memilih kata-kata yang menyejukan hati dan pikiran dalam menanggapi perbedaan tersebut.
  1. Berorientasi Sama-Sama Puas (Win-Win)
Sifat ini dimiliki oleh orang yang—dalam interaksinya dengan orang—selalu ingin membuat orang lain merasa gembira dan dia juga gembira. Orang yang demikian memiliki rasa respek pada orang lain.
  1. Sifat Melayani (Serving Attitude)
Orang yang memiliki sifat demikian ini sangat senang melihat orang lain senang dan sangat susah melihat orang lain susah. Sifat ini adalah lawan dari sifat egois yang hanya mementingkan diri sendiri atau golongannya sendiri. Orang yang memiliki sifat melayani, kalau menjadi pemimpin, dia bukan minta dilayani tapi melayani kepentingan oranng yang dipimpinnya.
  1. Kebiasaan Apresiatif
Orang yang memiliki sifat ini suka memberikan apresiasi pada apa yang dilakukan oleh orang lain. Apresiasi yang diberikan pada orang lain membuat orang lain merasa dihargai.
Sifat-sifat diri itu memang tidak semua dapat tercapai “hanya” dengan sebuah kegiatan outbound yang hanya berlangsung dalam hitungan hari(1-4 hari). Tapi, kigiatan outbound, terutama yang dirancang khusus untuk tujuan-tujuan tertentu, bisa menjadi starting point (titik pijakan) bagi seseorang untuk menemukan konsep diri dan perilaku yang lebih baik pada hari-jari berikutnya.
Dengan konsep-konsep interaksi antara peserta dan dengan alam, melalui kegiatan simulasi di alam terbuka, diyakini dapat memberikan suasana yang kondusif untuk membentuk sikap, cara berpikir, dan persepsi yang kreatif dan positif dari setiap peserta guna membentuk rasa kebersamaan, keterbukaan, toleransi, dan kepekaan yang mendalam, yang pada harapnya akan mampu memberikan semangat, inisiatif, dan pola pemberdayaan baru dalam kehidupannya.


Melalui simulasi outdoor activies ini, peserta juga akan mampu mengembangkan potensi diri, baik secara individu (personal development) maupun dalam kelompok (team development) dengan melakukan interaksi dalam bentuk komunikasi yang efektif, manajemen konflik, kompetisi pemimipin, manajemen reksiko,dan pengambilan keputusan serta inisiatif Outbound, Team Building & Experiential Learning
 
Persaingan semakin ketat, kebijakan regulasi yang senantiasa berubah, pertumbuhan dan fluktuasi pasar yang dinamik, tuntutan masyarakat dan customer yang kian tinggi terhadap mutu dan kecepatan, semuanya ini menuntut kita baik sebagai pelaku bisnis, eksekutif di sektor swasta dan pemerintahan, maupun kita sebagai individu untuk terus dan bisa melakukan continuous improvement dengan mengembangkan kompetensi (knowledge, skill dan attitude). Kompetensi berkaitan dengan sikap mental pasti erat hubungannya dengan persoalan team, kedisiplinan, kreativitas, kejujuran, integritas serta emosi dan spiritual dimana pengembangannya akan sangat tepat bila menggunakan metodologi outbound atau yang lebih dikenal dengan experiential learning approach.
Berbekal pengalaman kerjasama dengan banyak perusahaan swasta nasional, multinasional, BUMN, organisasi non profit, lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan, Nabz Outbound jogja OUTBOUND MANAJEMEN TRAINING  merancang secara customized bentuk kegiatan berkonsep experiential learning dengan cirikhas learning, motivating,exciting and reflecting. ( Disarikan dari berbagai sumber )

Judul: Manfaat Outbound - Nabz Outbound jogja
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Wednesday, March 28, 2012

Team Building : MEMBANGUN BUDAYA KERJA BARU DALAM ORGANISASI

Team Building : MEMBANGUN BUDAYA KERJA BARU DALAM ORGANISASI

Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu modal dasar suatu organisasi yang sangat penting dalam mencapai tujuan organisasi. Sehingga keberhasilan pencapaian tujuan suatu organisasi sangat ditentukan oleh kualitas SDM tersebut.

Kegagalan suatu organisasi dalam pencapaian tujuan organisasi bukan semata-mata hanya disebabkan oleh rendahnya ilmu pengetahuan atau kurangnya keterampilan SDM organisasi itu melainkan terutama disebabkan oleh kurang mampunya bekerja sama antar individu dalam organisasi. Selain itu struktur organisasi yang terkotak-kotak dengan pembagian kerja yang sangat kaku membuat nbvb mnbbm mnbmKeadaan seperti ini sering kali menimbulkan ketidakmampuan pelaku organisasi untuk bekerjasama dan berkomitmen untuk mencapai tujuan organisasi. Bahkan keadaan demikian sering kali menimbulkan budaya kerja yang terkotak-kotak dan hanya mau “mengibarkan benderanya sendiri-sendiri” bekerja bersifat rutinitas, tidak ada upaya inovasi dan mereka melupakan bahwa sesungguhnya kelompoknya adalah merupakan bagian dari kelompok besar (organisasi), budaya seperti ini sangat merugikan organisasi.

Jarak antara pimpinan dan staf dalam organisasi jadi renggang (lebar) dan keintiman bekerja menjadi berkurang. Semua ini sangat mengganggu sinergi kerja antar unit organisasi dan antar individu. Pengambilan keputusan menjadi terlambat dan akhirnya melemahkan daya saing organisasi.

Untuk mengubah kebiasaan kerja dari pekerjaan yang bersifat individual menjadi kerja tim diperlukan adanya paradigma baru dalam menangani pekerjaan. Pola kerja lama yang bekerja terkotak-kotak dengan masing-masing unit menjadi “kerajaan kecil” kini harus dirubah dengan pendekatan lintas fungsi. Pendekatan lintas fungsi ini sangat diperlukan karena terjadi perubahan yang mendasar dalam pelaksanaan dari pekerjaan yang berorientasi tugas menjadi pekerjaan yang berorientasi proses. Untuk menangani proses orang harus bekerja sama didalam menjalankan tahapan prose situ, mulai dari permulaan proses sampai akhir proses.

Organisasi yang berkinerja tinggi hanya bisa terwujud bila tim bisa menghasilkan sebuah sinergi. Untuk menimbulkan sebuah sinergi dalam kerja tim, anggota tim harus menyadari ketergantungan diantara mereka dan memahami bahwa hanya dengan saling bekerjasamalah mereka akan memperoleh hasil yang maksimal. Untuk mencapai yang maksimal ini setiap anggota harus merasa ikut memiliki pekerjaan dan memberikan kontribusi bagi tujuan organisasi. Setiap anggota harus memiliki kesadaran bahwa hanya dengan keterlibatan orang lainlah tujuan bersama akan tercapai. Selain itu tim harus memiliki sinergi didalam kegiatannya.


Untuk menjawab permasalahan-permasalahan sebagaimana diuraiakan di atas TEAM BUILDING OMT Nabz Outbound merupakan salah satu solusinya.

I. SEKILAS TEAM BUILDING

A. Pengertian Team Building

Team Building adalah suatu program pelatihan manajemen di alam terbuka yang mendasarkan pada prinsip “experiental learning” (belajar melalui pengalaman langsung) yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, dialog dan petualangan sebagai media penyampaian materi. Dalam program OMT tersebut, peserta secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiataan yang dilakukan. Dengan langsung terlibat pada aktifitas (learning by doing) peserta akan segera mendapat umpan balik tentang dampak kegiatan yang dilakukan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan diri masing-masing anggota di masa mendatang.

Team Building merupakan program-program pelatihan yang intensif melalui Experiential Learning dalam rangka pembentukan suatu tim (team buiding) serta bagaimana masing-masing anggota kolompok tersebut dapat mengidentifikasikan dan selanjutnya secara sinergis berusaha maksimal mencapai tujuan yang dinginkan.

Out Bound Management Training adalah pelatihan yang berorientasi pada upaya untuk mengembangkan budaya kerja baru. Perubahan budaya kerja baru didasarkan pada kebutuhan organisasi yang berubah dari organisasi yang lama ke organisasi baru yang meliputi hal-hal sebagai berikut :

1. Kerja yang mengacu pada misi, visi, dan nilai organisasi dengan mengacu kepada nilai-nilai baru organisasi (kemandirian, keterbukaan, dan integritas).
2. Orientasi berfokus pada proses dan hasil.
3. Kerja berdasarkan tim.
4. Bekerjasama antar unit organisasi.

B. Tujuan
1. Meningkatkan kemampuan peserta untuk bekerja dalam tim (team work).
2. Meningkatkan motivasi dan keyakinan diri peserta akan kemampuan diri (personal development) serta mampu berpikir kreatif (trust).
3. Meningkatkan kebersamaan dan rasa saling percaya (trust).
4. Penyegaran dan memecahkan kekakuan birokrasi.

C. Metoda
Metoda yang digunakan dalam program OMT adalah :
1. Permainan kelompok
2. Kerja kelompok
3. Petualangan individual
4. Ceramah (keterkaitan antara kegiatan simulasi dengan prinsip manajemen)
5. Refleksi

Judul: Team Building : MEMBANGUN BUDAYA KERJA BARU DALAM ORGANISASI
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Tuesday, March 27, 2012

Refleksi dalam kegitan Outbound

Nabz Outbound Refleksi dalam kegitan Outbound

Apakah refleksi itu? 


Refleksi atau biasa juga disebut renungan adalah satu sesi untuk mengambil pelajaran dari pengalaman ( kegiatan Outbound ) yang telah dilalui.

Mengapa perlu direfleksi?


Kegiatan dalam Outbound memerlukan keterlibatan Fisik ( Psikomotorik ), Mental ( Afektif ), Pikiran ( Kognitif ) meskipun dengan proporsi berbeda. Akan tetapi masing-masing peserta berangkat dengan pengalaman masa lalu dan suasana hati yang berbeda, sehingga cara merespon kegiatan / permainan dalam Outbound pun berbeda pula. Sehingga pengalaman akhir yang didapat juga bervariasi.

Agar manfaat yang didapat dari kegiatan Outbound dapat bernilai positif dan maksimal bagi pengembangan diri peserta, maka dapat dibantu dengan memberi refleksi yang tepat terhadap aktifitas yang dialami. Adapun manfaat refleksi antara lain:


  1. Menambah nilai pengalaman, ekplorasi yang tepat dapat menambah nilai dan arti pengalaman, jika tidak tepat dapat mengecilkan nilai dari kegiatan dalam Outbound.
  2. Meminimalkan hambatan dalam proses belajar, suasana hati yang tidak fun dapat menjadikan seseorang bersikap cuek terhadap keadaan yang ada disekitarnya, sehingga dengan refleksi diharapkan dapat memberikan wacana dan pemahaman yang lebih luas. 
  3. Memperjelas arah tujuan, mengukur kinerja, introspeksi diri, merayakan keberhasilan.
  4. Membuka wawasan baru, melihat alternatif lain untuk meraih tujuan, melihat masalah dari sudut pandang orang lain, mengukur diri. 
  5. Mengembangkan pengamatan dan kesadaran, tentang keberanian, persepsi, dll. 
  6. Membangun kepedulian, refleksi dapat menjadi wahana untuk mengungkapkan kepedulian, menerima tanggapan/feedback atas sikap diri selama kegiatan berlangsung. 
  7. Memupuk keberanian untuk mengekpresikan diri, refleksi yang tepat dapat menjadi wahana untuk memupuk keberanian berbicara atau membicarakan pengalaman diri peserta. NB: Fasilitator harus mampu memilih situasi, simbol-simbol yang tepat. 
  8. Memandu kesuksesan, memahami bagaimana kesuksesan diraih, membantu peserta menikmati kesuksesan, mengaplikasikan kedalam permanent system. 
  9. Memberikan dukungan, rise taking dalam permainan berdampak sukses atau gagal, melalui refleksi pengalaman tersebut dianalisis, sehingga peserta dapat mengetahui bagaimana kegagalan itu terjadi, bangkit dari kegagalan, perjuangan meraih sukses. 
  10. Memberdayakan peserta, refleksi dapat memperkuat kemampuan peserta untuk dapat belajar dari pengalaman yang dialaminya, sehingga akan berdampak pada: kemampuan belajar, kepercayaan diri, kemandirian, mengembangkan diri. 


Ada berapa tingkatan dalam refleksi itu ?

Ada tiga tingkatan refleksi pengalaman dalam Outbound, yaitu:


  1. Merasakan pengalaman,
  2. Menceritakan pengalaman,
  3. Diskusi dan Tanya jawab pengalaman.

MERASAKAN PENGALAMAN

  1. Peserta dapat merasakan secara langsung dari suatu kegiatan ( Learning by Doing ), adapun garis besarnya sebagai berikut:
  2. Peserta diajak menyelesaikan suatu rangkaian skenario kegiatan tantangan fisiologis, Psikologis dan intelektual.
  3. Peserta menjalankan kegiatan sesuai dengan standar prosedur yang telah ditentukan.
  4. Peserta mendapatkan pengalaman baru yang ” Fun ” dari kegiatan yang dilakukan.
  5. Peserta secara mandiri memperoleh kesadaran baru adanya proses pembelajaran.
  6. Peserta merasakan bertambahnya kemampuan dan pengalaman yang dapat diaplikasikan pada keadaan yang sesungguhnya ( di lapangan ).

MENCERITAKAN PENGALAMAN

  1. Peserta mendapat tambahan pengalaman melalui ” bantuan ” Fasilitator, setelah mengamati dinamika kegiatan, fasilitator membuat rangkaian cerita kegiatan kemudian diceritakan kembali kepada peserta ( Learning by Telling ), adapun garis besarnya sebagai berikut:
  2. Peserta diajak menyelesaikan suatu rangkaian skenario kegiatan tantangan fisiologis, Psikologis dan intelektual.
  3. Peserta menjalankan kegiatan sesuai dengan standar prosedur yang telah ditentukan.
  4. Peserta mendapatkan pengalaman baru yang ” Fun ” dari kegiatan yang dilakukan.
  5. Setelah kegiatan, Fasilitator bercerita ulang tentang kejadian yang diamati ( recall memory ) sebagai jangkar ingatan dalam proses belajar peserta.
  6. Fasilitator menarik kesimpulan pembelajaran.
  7. Peserta merasakan bertambahnya kemampuan dan pengalaman yang dapat diaplikasikan pada keadaan yang sesungguhnya ( di lapangan ).


DISKUSI DAN TANYA JAWAB PENGALAMAN

  1. Peserta mendapatkan hikmah pembelajaran dengan ” bantuan ” Fasilitator dalam refleksi, berdiskusi dan tanya jawab tentang pengalaman yang didapatkan (Learning by Reflecting), adapun garis besarnya sebagai berikut:
  2. Peserta diajak menyelesaikan suatu rangkaian skenario kegiatan tantangan fisiologis, Psikologis dan intelektual.
  3. Peserta menjalankan kegiatan sesuai dengan standar prosedur yang telah ditentukan.
  4. Peserta mendapatkan pengalaman baru yang ” Fun ” dari kegiatan yang dilakukan.
  5. Peserta secara mandiri memperoleh kesadaran baru adanya proses pembelajaran.
  6. Fasilitator memandu refleksi dengan pertanyaan panduan yang terstruktur
  7. Peserta mengungkapkan ulang pengalamannya dan mendapatkan pembelajaran baru dari kegiatan tersebut.
  8. Fasilitator mendorong terjadinya diskusi tentang sikap peserta, analisis, evaluasi dari perilaku yang muncul.

APA OBYEK YANG DIAMATI OLEH FASILITATOR ?

Obyek yang diamati oleh Fasilitator dapat di kelompokkan menjadi empat, yaitu:
Hal yang dirasakan

  1. Ekpresi yang ditunjukkan saat berhasil menyelesaikan tantangan
  2. Tindakan yang dilakukan saat menghadapi ketegangan
  3. Ungkapan yang muncul saat menghadapi kesulitan Proses yang terjadi
  4. Proses pengambilan keputusan saat menghadapi masalah dalam kegiatan
  5. Proses dalam membangun keterlibatan anggota dalam tim
  6. Proses membangun semangat anggota tim
Kesimpulan yang dapat diambil

  1. Kesadaran baru yang dapat diperoleh dari rangkaian kegiatan yang dialami.
  2. Cara berpikir dengan sudut pandang baru
  3. cara baru dalam bertindak disaat menghadapi suatu masalah
  4. Peran serta dan tanggung jawab masing-masing individu dalam setiap kegiatan.
Tindak lanjut yang akan dilakukan

  1. Rencana implementasi hasil Outbound dalam kehidupan sehari-hari
  2. Tindakan yang akan diambil untuk mengurangi resiko gagal.

Apa Pertanyaan yang biasa digunakan oleh Fasilitator dalam memandu refleksi ?

Pertanyaan yang biasa digunakan oleh Fasilitator dalam memandu diskusi pada saat refleksi, antara lain:
  1. Apa nama permainan yang telah anda lakukan ?
  2. Apa tujuan dari permaianan….
  3. Bagaimana pelaksanaannya / Faktanya ( Berhasil / Gagal ) 
  4. ( Berhasil ) Apa potensi yang anda miliki / kelompok anda ?
  5. ( Gagal ) Kendala apa yang terjadi ?
  6. Untuk menyelesaikan permainan ….. ini, dibutuhkan peran apa saja ?
  7. Bagaimana cara membagi peran dalam permainan …. tersebut ?
  8. Apa yang dapat anda pelajari tentang diri anda ?
  9. Apa yang dapat kamu amati tentang rekan kerja anda ?
  10. Apa yang dapat anda pelajari / hikmah dari pernainan tersebut ?
  11. Apa manfaat yang didapat jika hikmah tersebut di aplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari ?

Bagaimana panduan dalam bertanya disaat memberikan refleksi ?

Seringkali pertanyaan yang diberikan oleh Fasilitator justru membingungkan, dan dapat mendangkalkankan arti / hikmah pembelajaran dari kegiatan yang telah dilakukan peserta, oleh karena itu Fasilitator hendaknya dapat menemukan ilham untuk membuat pertanyaan yang efektif dan berdampak positif, oleh karena itu Fasilitator hendaknya :
Dapat memberi pertanyaan yang berdampak positif, karena pertanyaan positif dapat memberi stimulan psikologis yang positif juga.

  1. Mengapa anda / kelompok anda tidak dapat menyelesaikan permainan ini ? ( – )
  2. Apa kesulitan yan gmuncul dalam menyelesaikan permainan ini ? ( + )
  3. Kenapa anda memutuskan untuk menyerah ? ( – )
  4. Mengapa anda mengambil pilihan tersebut ? ( + )
Dapat menyampaikan pertanyaan secara etis, karena etika menjadi salah satu kunci terjadinya komunikasi yang baik. Oleh karena itu perlu diperhatikan bahwa:
  1. Pertanyaan bukan untuk menguji pengetahuan / kepandaian peserta
  2. Ungkapkan pertanyaan dengan tegas dan jelas
  3. Bersikaplah yang menimbulkan efek kondusif
  4. Beri kesempatan yang sama terhadap seluruh peserta
  5. Pertanyaan yang tidak menyinggung harga diri peserta
  6. Pertanyaan tidak digunakan untuk menyudutkan peserta
  7. Dapat memberikan sikap tubuh yang tepat yang dapat menimbulkan persepsi positif
  8. Jaga kontak mata dengan peserta
  9. Hindari melihat dengan pandangan kosong
  10. Hindari melihat satu peserta terus menerus
Perhatikan gerak tangan

  1. Berpegangan tangan di belakang = Fasilitator sangat kaku dan terlalu formal
  2. Dua tangan didepan tubuh = Fasilitator grogi
  3. Melipat tangan = Fasilitator menampilkan sikap bertahan
  4. Memasukkan salah satu tangan ke kantong = Fasilitator kurang empati/setengah 2 dalam memfasilitasi peserta
Hindari kesalahan dalam memberikan pertanyaan, antara lain:
  1. Mengira peserta sudah ” otomatis ” mengerti maksud pertanyaan
  2. Bertanya terlalu banyak pada waktu yang sama
  3. Bertanya pada satu orang tertentu
  4. Memberi pertanyaan yang ” tidak enak ” pada orang tertentu.
  5. Hindari terlalu dekat ( jarak fisik ) dengan satu peserta
  6. dll

Judul: Refleksi dalam kegitan Outbound
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Monday, March 26, 2012

Pengertian Outbound Management Training

Pengertian OMT

Out Bound Management Training (OMT) adalah suatu program pelatihan manajemen di alam terbuka yang mendasarkan pada prinsip “experiental learning” (belajar melalui pengalaman langsung) yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, dialog dan petualangan sebagai media penyampaian materi. Dalam program OMT tersebut, peserta secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiataan yang dilakukan.


Dengan langsung terlibat pada aktifitas (learning by doing) peserta akan segera mendapat umpan balik tentang dampak kegiatan yang dilakukan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan diri masing-masing anggota di masa mendatang.

Out Bound Management Training adalah pelatihan yang berorientasi pada upaya untuk mengembangkan budaya kerja baru. Perubahan budaya kerja baru didasarkan pada kebutuhan organisasi yang berubah dari organisasi yang lama ke organisasi baru yang meliputi hal-hal sebagai berikut :

1.            Kerja yang mengacu pada misi, visi, dan nilai organisasi dengan mengacu kepada nilai-nilai baru organisasi (kemandirian, keterbukaan, dan integritas).
2.            Orientasi berfokus pada proses dan hasil.
3.            Kerja berdasarkan tim.
4.            Bekerjasama antar unit organisasi.

B.           Tujuan
1.            Meningkatkan kemampuan peserta untuk bekerja dalam tim (team work).
2.            Meningkatkan motivasi dan keyakinan diri peserta akan kemampuan diri (personal development)   serta mampu berpikir kreatif (trust).
3.            Meningkatkan kebersamaan dan rasa saling percaya (trust).
4.            Penyegaran dan memecahkan kekakuan birokrasi.

C.          Metoda
      Metoda yang digunakan dalam program OMT adalah :
1.            Permainan kelompok
2.            Kerja kelompok
3.            Petualangan individual
4.            Ceramah (keterkaitan antara kegiatan simulasi dengan prinsip manajemen)
5.            Refleksi

D.          Materi
1.            Kepemimpinan
2.            Hubungan interpersonal
3.            System thinking
4.            Komunikasi efektif
5.            Motivasi diri dan orang lain
6.            Pengelolaan diri
7.            Berpikir kreatif

E.           Peserta
OMT dapat diikuti oleh semua lapisan anggota organisasi (pegawai yang berada pada satu seksi / bidang organisasi).
Jumlah peserta minimal 20 orang, maksimal 40 orang.

 F.           Tempat dan Media Kegiatan
Tempat kegiatan di alam terbuka yang dianggap memadai untuk dijadikan tempat OMT yang akan menjadi media pelatihan.
Adapun untuk media kegiatan akan disesuaikan dengan kebutuhan pelatihan.
Keterangan : Tempat dan media sekurang-kurangnya mempunyai 3 kriteria, yaitu :
1.      Memiliki tantangan fisiologis
2.      Memiliki tantangan psikologis
3.      Memiliki tantangan intelektualitas

G.          Fasilitator
OMT ini difasilitasi oleh fasilitator berpengalaman di bidang OMT yang sering menangani pelatihan baik bagi karyawan pemerintah maupun swast.

II.          PEMBIAYAAN
Pembiayaan bersifat paket,hubungi kami untuk lebih detailnya,,

Judul: Pengertian Outbound Management Training
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Sunday, March 25, 2012

SELF EMPOWERMENT::Pengembangan Diri

SELF EMPOWERMENT::Pengembangan Diri

Kami dari Nabz Outbound menerima jasa outbound jogja dan ada juga paket  SELF EMPOWERMENT::Pengembangan Diri ..


Segera Hubungi Kami

Judul: SELF EMPOWERMENT::Pengembangan Diri
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Saturday, March 24, 2012

Jasa Pelatihan Outbound Jogja

Nabz Outbound. Outbound berasal dari kata Out of Boundaires yang artinya pembelajaran dengan menggunakan metode yang berbeda dari biasanya. Out Bound Team Building merupakan serangkaian kegiatan pembelajaran  di luar kelas (alam terbuka )  dengan menggunakan alam sebagai media pembelajaran, yang di dalamnya meliputi kegiatan yang bersifat educating, experiencing, informating dan refreshing. Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk dapat meningkatkan efektivitas pola perilaku peserta latih dalam melaksanakan fungsi sebagai anggota tim manajemen dalam organisasi Formula perkembangan team work sebagai berikut : .
Team Work  =  S  individuals  +  group skills  +  group attitude

Metoda pelatihan ini dikembangkan  berdasarkan tata cara belajar dari pengalaman belajar itu sendiri ( Experience Base Learning ) . Dari pembelajaran ini titik bidiknya bukan hanya ranah Kognitif ( penalaran ) melainkan juga diajak untuk lebih menyelami perasaan  ( emosi ) dan kekayaan rohaninya (spiritual) sebagai suatu pribadi. Bahan utama pembelajaran  adalah pola - pola perilaku manajerial baik  pada dirinya sendiri  maupun pada sesama anggota kelompoknya . Peserta latih didampingi  oleh beberapa orang fasilitator yang berperan bukan sebagai ‘’guru ‘’ melainkan sebagai mitra belajar dan penyelaras proses



Setiap proses Outbound selalu terkait dengan 3 ranah pengembangan :
1. Pengetahuan ( area cognitive)
2. Sikap (area afektif )
3. Bertindak (area psikomotorik )

Aktifitas outbound bisa mencakup 3 area diatas, karena aktifitas outbound melibatkan secara langsung tantangan :
- Psychologis (Fisik)
- Emotional (Emosi)
- Intelektual (Pengetahuan)
- Experience (Pengalaman)
- Spiritual ( Keagamaan ).

Aktifitas atau kegiatan yang dilakukan dalam Outbound :
- Permainan / Game
- Berpetualang / Adventure
- Refleksi diri
- Simulasi ketrampilan
- Debriefing, diskusi dan afirmasi positif


Itupun nantinya akan diklasifikasikan menurut tingkat perkembangan psikomotorik, intelektual dan emosional. Secara aplikasi dapat di bagi :
- Outbound Siswa TK – SD
- Outbound Siswa SLTP
- Outbound Siswa SLTA
- Outbound Mahasiswa
- Outbound Umum (karyawan, pegawai, kelompok tertentu)
- Outbound Keluarga (Family gathering)

Berdasarkan fungsinya, outbound dibedakan menjadi :
a.      Outbound Fun Game / Gembira
b.      Outbound Manajemen Training / Outbound untuk peningkatan manajemen.
c.      Outbound Threatmen / Reprograming system
d.      Outbound Sensitivity Training.

Berdasarkan peralatan yang digunakan dan tingkat kesusahannya, outbound dibagi menjadi 3, yaitu :
1.       Low Impact
2.       Middle Impact
3.       High Impact
Program Outbound yang diatawarkan :
  1. 1.       Outbound Fun
  2. 2.       Booth Camp- Siswa Baru ( MOS )
  3. 3.       Booth Camp LDKS
  4. 4.       Booth Camp Prima Siswa
  5. 5.       Booth Camp Super Camp for Excellent
  6. 6.       Booth camp Disclossing National Exxam
  7. 7.       Team Building
  8. 8.       Sensitivity training
  9. 9.       Family Gathering
  10. 10.   Cabe rawit gathering

11.   Sesuai permintaan Customer

Nah, sekarang kira-kira anda ingin mengikuti kegiatan outbound yang mana??

Judul: Jasa Pelatihan Outbound Jogja
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Friday, March 23, 2012

Arung Jeram Magelang-Elo-Serayu-Progo

WISATA ARUNG JERAM

Arung jeram adalah kegiatan menyusuri sungai arus deras dengan perahu karet. Sungai yang dipilih adalah sungai dengan gradien tertentu. Gradien adalah perbedaan ketinggian dari titik start dengan titik finish. Semakin tinggi gradien, berarti semakin tinggi level kesulitan jeramnya. Kami menjamin, sungai yang digunakan sangat aman untuk anda dan keluarga.






1. Sungai Elo
Panjang track : 12 kilometer
Durasi : 3 jam
Lokasi : Magelang, Jawa Tengah. 40 kilometer dari Jogjakarta, 85 km dari Semarang.
Start point : Desa Pare, Blondo, Mungkid, Magelang.
Finish point : Desa Mendut, Mungkid, Magelang. Satu kilometer dari Candi Mendut.
Level : 2-3

2. Sungai Progo Atas
Panjang track : 9 kilometer
Durasi : 2 jam
Lokasi : Magelang, Jawa Tengah. 48 kilometer dari Jogjakarta, 80 km dari Semarang.
Start point : Desa Tuksongo, Kota Magelang.
Finish point : Desa Tempurejo, Magelang.
Level : 3

3. Sungai Progo Bawah
Panjang track : 15 kilometer
Durasi : 3,5 jam
Lokasi : Magelang, Jawa Tengah.
Start point : Desa Klangon, Muntilan, Magelang.
Finish point : Desa Dekso, Kulonprogo, Jogjakarta.
Level : 4

Judul: Arung Jeram Magelang-Elo-Serayu-Progo
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Thursday, March 22, 2012

High Impact Outbound Training with Mind Mental Power Awakening

Outbond Management Training merupakan salah satu metode pelatihan sistematis yang langsung diimplementasikan keseluruh SDM di alam bebas.

Pelatihan ini mendasarkan pada teknik modifikasi: Pikiran ( Cognition) , Perasaan ( affection) dan Perilaku ( behavior) dengan berbasis pada ethic, love dan Spirituality. Komponen tersebut dikemas dalam pilihan training singkat maupun berjenjang.

Inbound dilakukan di kelas dengan pembentukan dan penyelarasan MINDSET berbasis visi/ misi perusahaan dengan visi/ misi individu. Metode yang digunakan adalah in class Training dengan tema yang disesuaikan dengan kepentingan pengguna jasa.

Outbound Training dilakukan di alam bebas melalui management games. Para fasilitator yang kompeten di bidang Neuro Linguistic Programming ( NLP) , n-Ach Motivation, Mindset, mental & spiritual power dan menguasai teknik SAR akan menghantar partisipan ke dalam situasi Experience Learning yang fun, memorable dan aplikatif dalam kehidupan pribadi dan organisasi

Metode Pelatihan:
Menggunakan metode andragogi, partisipatif dan psychodrama melalui pembelajaran di alam bebas. Partisipan diajak secara langsung mengeksplorasi diri ( self-exploration) bersama team ( live-in Team) melalui diskusi-aksi-refleksi, perencanaan & perbaikan implementasi serta komitmen.

Bentuk Pelatihan:
• Membangun Grup ( Team Building) : setiap partisipan dituntut mengenal seluruh komponen yang terlibat, memecahkan kekakuan birokrasi, kebekuan komunikasi dan pengetahuan tentang kekuatan & kelemahan serta kesatuan individu dan memiliki sikap saling membutuhkan.

• Kerjasama Kelompok ( Team Work & Soliditas Building) : Penekanan pada peningkatan kemampuan kinerja tim yang didasari oleh komitmen pribadi anggota tim terhadapi elemen-elemen dasar efektifitas dan efisiensi kerja tim. Reaksi alami dalam berbagi peranan, pengorbanan, saling menghargai, komunitas terbuka terhadap komitmen dan saling menyemangati akan terbangun suatu ikatan kebersaman untuk membangkitkan antusiame, le esprite de corp,

• Kepemimpinan dan Pendelegasian ( Leadership Building) : Partisipan mengeksplorasi karakter-karakter seorang pemimpin seperti halnya komitmen, visi, kemampuan mendegar secara aktif dan suri tauladan. Partisipan mengalami karakter-karakter ini secara nyata untuk dapat memadukan kompetensi individual dan memberdayakan sehingga memberikan kontribusi untuk pencapaian suatu tujuan.

• Pengembangan Diri ( Personal Building) : Setiap partisipan dituntut memiliki komitmen pertumbuhan dan optimalisasi perkembangan diri melalui pemahaman cintakasih, etika dan spiritualitas dalam kebhinnekaan. Bertumbuh bersama dalam proses bersama orang lain.

• Strategi Perencanaan ( Strategic Building) : Setiap partisipan diajak untuk mencoba, berlatih dan menyusun perencanaan misi berdasarkan setiap visi yang ditentukan oleh individu maupun organisasi.

• Pembangkitan Kekuatan Mental dan Spiritual ( Mental & Spiritual Power Awakening) . Penggunaan Neuro Languistic Programming dan harmonisasi body & Mind akan membawa partisipan mengalami pengalaman dahsyat mengenai kekuatan diri, penajaman intuisi dan self-theraupetic.

Judul: High Impact Outbound Training with Mind Mental Power Awakening
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Wednesday, March 21, 2012

PERMAINAN DALAM OUT BOUND

Berikut ini disajikan ringkasan beberapa permainan ( team building games) yang biasa dipakai dalam training-training outbound atau team building training. Untuk posting-posting selanjutnya kami akan menyajikan games-games ini secara lebih detail..meliputi deskripsi, manual dan tujuan-tujuan dan makna dari setiap games ini.

I

ALMOST INFINITE CIRCLE
Permainan :
Peserta diminta untuk dapat melepaskan tali yang terikat dengan tali pasangannya, dimana tali tersebut masing-masing terikat di kedua pergelangan tangan masing-masing orang.
Aturan Main :
  • Tidak boleh memotong tali.
  • Tidak boleh membuka simpul yang mengikat ke pergelangan tangan.
###
GRASS IN THE WIND
Permainan :
Pada permainan ini peserta secara bergantian akan bergantian akan merubuhkan diri ke arah rekan kelompok yang berdiri di sekeliling nya ; dan rekan-rekan yang lain menahan dan kemudian mendorongnya ke arah yang lain.
Aturan Main :
  • kelompok membuat lingkaran kecil dengan posisi tangan di depan dada
  • satu anggota kelompok berdiri di pusat lingkaran.
  • peserta yang di tengah menjatuhkan badan seperti kayu tumbang, dengan kaki yang tidak berpindah dan tetap rapat.
  • sisa kelompok yang ada bertugas menahan kemudian mendorongnya ke arah yang lain.
###
TRUST FALL
Permainan :
Pada permainan ini peserta secara bergantian akan bergantian akan menjatuhkan diri ke belakang dari sebuah platform yang tersedia dan rekan-rekan yang lain menangkapnya di bawah.
Aturan Main :
  • Yang Jatuh adalah mereka yang akan menerima aba-aba untuk menjatuhkan dirinya ke belakang dari Fasilitator.
  • Yang Menangkap adalah mereka yang menangkap Yang Jatuh.
  • Peserta yang akan menjatuhkan diri harus menanggalkan jam tangan, cincin atau kacamatanya terlebih dahulu.
  • Peserta yang menjatuhkan dirinya harus berdiri tegak dan kaku. Kedua tangan di samping badan atau terlipat di dada sambil memegang pundak. Berdiri membelakangi rekan-rekan yang akan menangkap.
  • Ketika menjatuhkan diri ke belakang, peserta dilarang membuka tangannya sehingga tidak memukul rekan yang menangkap di bawah.
  • Peserta yang menangkap membentuk dua barisan rapat, yang saling berdiri berhadapan dengan jumlah anggota barisan yang sama serta bahu saling bersinggungan dengan rekan sebaris. Masing-masing barisan membentuk bantalan mendarat yang kuat dan lentur dengan cara merentangkan tangan ke depan sejajar dengan bahu dengan telapak tangan menghadap ke atas, dan masing-masing tangan direntangkan berselang-seling dengan rekan pada barisan di depan.
  • Peserta yang menangkap dilarang mengepalkan tangan ketika menangkap.
###
X – Y Games
Permainan :
Setiap kelompok mewakili sebuah divisi dalam perusahaan. Tujuan kelompok adalah memaksimalkan keuntungan (profit) divisi.
Aturan Permainan
  • ke 4 kelompok dipisahkan dari yang lain dan tidak diperbolehkan berkomunikasi sepanjang permainan
  • permainan dijalankan dalam beberapa putaran. Untuk Setiap putaran divisi harus memilih “X” atau “Y”. dilarang melanjutkan putaran sebelum semua divisi menentukan pilihannya
  • dalam tiap putaran , tiap divisi akan untung atau rugi berdasarkan kombinasi dari pilihan –pilihan tiap divisi (lihat profit/loss scoring table)
  • keunttungan dan kerugian akan dikumulasi. Catatan : pada putaran ke 5, nilai akan dikalikan 3 dan pada putaran 8 dikalikan 5, dan di putaran 10 dikalikan 10.
  • keputusan divisi memilih X atau Y didasarkan pada kesepakatan semua anggota divisi
    • tiapa anggota kelompok harus memilih
    • gunakan aturan suara mayoritas
  • saat divisi sudah memilih, beritahu kepada fasilitator pilihan tersebut. Jika semua divisi sudah menentukan pilihan, wakil kelompok maju ke tempat yang ditentukan untuk kemudian menunjukkan pilihan divisi mereka masing-masing.
  • lihat kombinasi pilihan yang ada, masukan skor. Lanjutkan ke putaran berikutnya
  • waktu tiap putaran hanya kurang lebih 2 minutes
###
TOXIC WASTE
Permainan :
Tim harus memindahkan cairan beracun dari satu container ke container yang lain.
Aturan Main :
  • Peserta tidak boleh berbicara satu sama lain.
  • Alat bantu yang dapat digunakan hanya berupa tali-tali yang tersedia.
  • Tidak boleh memasuki area radiasi, bila ada seorang peserta yang menginjak maka permainan harus diulang dari awal lagi.
  • Cairan tidak boleh tumpah, apabila tumpah permainan diulang dari awal.
  • Dianggap selesai bila tali-tali yang dipergunakan kembali keluar lingkaran.
Tipe : Strategic Game
Target : team work dalam mencapai target, inovasi-kreativitas , disiplin
###
SPIDER WEB
Permainan :
Seluruh peserta harus berpindah dari satu sisi ke sisi yang lain melalui sebuah jaring laba-laba raksasa dengan dibantu rekan yang lain.
Aturan Main :
  • Tidak boleh melalui lobang yang sudah pernah dilalui.
  • Badan dan pakaian tidak boleh menyentuh tali, tiang atau pohon tempat tali diikat.
  • Tidak boleh melakukan lompatan.
Tipe : Strategic Game
Target : team work dalam mencapai target, inovasi-kreativitas , disiplin
###

TOWER BUILDING

Tugas :
  • Tim harus bekerja sama membangun sebuah menara dari alat/bahan yang disediakan
  • Kelompok juga diminta untuk mengambil benda tertentu yang berada di udara.
  • Tim juga harus membuat bendera dan memasangnya di ujung tower

Judul: PERMAINAN DALAM OUT BOUND
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Tuesday, March 20, 2012

Outbound Outdoor activities

Outbound Outdoor activities, Nabz Outbound. Dasar pendekatan untuk pelatihan ini, adalah Pembelajaran model orang dewasa (adult learning) dan Outdoor activities.

Pendekatan dengan aktifitas outdoor dapat mengakomodasi pembelajaran model orang dewasa yaitu belajar dari apa yang dialami (action), yang mana praktisasinya dihubungkan (Reflection) dengan permasalahan hidup sehari-hari.

Pelatihan dengan media outdoor memberikan beberapa nilai tambah, metode ini terbukti efektif . Karena berbeda dengan pelatihan dalam ruang (indoor) yang konvensional dan hanya menyentuh aspek kognisi saja.

Ruang terbuka (Outdoor) merupakan media atau prasarana yang memberikan keleluasaan baik pada gerak fisik (psikomotorik), maupun emosi (afeksi) dan berpikir (kognisi)
bagi pesertanya.

Sedangkan Metode Pembelajaran Orang Dewasa dipilih karena orang dewasa dalam belajar memiliki beberapa ciri, antara lain :

1.Tidak menyukai suasana yang formal, karena suasana yang formal dalam belajar mengekang proses berpikir. Sedangkan bila suasananya informal dapat terjadi pertukaran ide secara luas.
2.Orang dewasa selalu ingin memecahkan masalah, aktifitas diluar ruang selalu memiliki problema yang menantang untuk dipecahkan.
3.Orang dewasa akan mengalami kemajuan bila menghadapi masalah-masalah yang nyata, dan dapat mempraktekkan apa yang dimilikinya untuk memecahkan masalah tersebut.
4.Orang dewasa selalu mencari manfaat dari apa yang dialaminya.

Judul: Outbound Outdoor activities
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5

Monday, March 19, 2012

sEKOLAH aLAM JOGJA

Pelatihan di alam bebas, yang sering dikenal sebagai outdoor training, merupakan salah satu metode pelatihan yang cukup populer sejak tahun 1980-an (Wagner, Baldwin, Roland, 1991). Perusahaan-perusahaan besar seperti AT&T, Xerox, General Electric, dan Marriott seringkali mengirim para eksekutif ataupun staff mereka untuk mengikuti kegiatan pelatihan di alam bebas (Long, 1987). Pelatihan tipe ini menjadi terkenal karena dianggap sangat efektif untuk mencapai berbagai tujuan pelatihan, misalnya pertumbuhan individu (Galagan, 1987) dan ketrampilan manajemen organisasi (Long, 1987). Tabel di bawah ini memberikan gambaran persentase pelatihan di alam bebas yang ingin mencapai tujuan tertentu (Wagner, Baldwin, & Roland; 1991):

Team building 90%
Self esteem 50%
Kepemimpinan 40%
Ketrampilan menyelesaikan masalah 20%
Pengambilan keputusan 15%



mari kita analisis proses belajar yang terjadi di dalam metode pelatihan di alam bebas dan mengevaluasi efektivitasnya, terutama di dalam konteks team building dalam organisasi.

PROSES BELAJAR
Need Assessment: Memastikan bahwa pelatihan relevan
Dalam tulisan mereka, Buller, Cragun, & McEvoy (1991) mengajukan bahwa pelatihan di alam bebas yang optimal harus dimulai dengan training need analysis, misalnya berupa wawancara dengan sponsor-sponsor kunci, peserta program, atau staf SDM dari perusahaan klien. Pemikiran yang sama juga diajukan oleh Long (1987) dan Petrini (1990). Mereka mengatakan bahwa pelatihan di alam bebas harus didesain sesuai dengan kebutuhan organisasi tertentu.

Usulan ini sangat sesuai dengan best practice yang diajukan oleh Goldstein (1994), yang menyatakan bahwa langkah pertama dalam melakukan persiapan pelatihan adalah melakukan training need assessment. Hasil dari proses ini kemudian dijadikan dasar untuk menyusun tujuan, kriteria, dan desain pelatihan.

Sebuah contoh kasus dapat memperjelas fungsi dari training need analysis. Kegiatan berjalan di jembatan tali adalah salah satu kegiatan yang cukup populer dan sering diminta oleh klien ketika mereka menggunakan metode pelatihan di alam bebas. Namun, pelatih yang baik tidak akan begitu saja memenuhi permintaan ini. Kegiatan berjalan di jembatan tali bisa jadi tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai organisasi klien. Jika tujuan pelatihan adalah untuk meningkatkan pertumbuhan individu, maka kegiatan berjalan di jembatan tali bisa dipilih karena dalam kegiatan ini individu dapat menemukan karakter-karakter pribadi yang mungkin sebelumnya tidak mereka ketahui, misalnya bagaimana mereka bersikap ketika merasa stress atau bagaimana mereka dapat mengatasi rasa takut. Namun jika tujuan pelatihan adalah team building atau kepemimpinan, kegiatan berjalan di jembatan tali tidak akan sesuai karena dalam kegiatan ini tidak banyak terjadi interaksi antar anggota kelompok, sementara interaksi sosial merupakan unsure penting dalam kegiatan team building atau kepemimpinan (Petrini, 1990).

Desain Pelatihan: Memastikan bahwa proses belajar benar terjadi
Menurut Kehoe & Bright (2003), ada empat prinsip utama yang mempengaruhi keberhasilan pelatihan: proses encoding untuk mengoptimalkan beban kognitif, memori yang membantu pembentukan skema, proses konstruktif yang mendorong interaksi antar individu, serta umpan balik yang memberikan bimbingan bagi peserta.

Keempat prinsip utama ini dapat diterapkan dalam mendesain pelatihan melalui beberapa strategi. Bagian tulisan ini akan membahas strategi-strategi yang digunakan dalam pelatihan di alam bebas.

* Beban Kognitif – Pengurutan dari yang Sederhana ke yang Rumit: Teori Beban Kognitif banyak digunakan oleh para ahli pelatihan untuk mendesain presentasi informasi yang paling optimal pada waktu pelatihan (Sweller, van Merrienboer, & Paas, 1998; Paas, Renkl, & Sweller, 2003). Dalam teori ini, salah satu hal utama yang diajukan adalah bahwa manusia memiliki kemampuan memori jangka pendek yang terbatas dan keterbatasan ini harus dipertimbangkan ketika menyusun informasi yang akan dipresentasikan di dalam pelatihan sehingga tidak terjadi kelebihan beban kognitif yang akan membuat pelatihan menjadi tidak efektif. Dalam konteks pelatihan di alam bebas, beban kognitif yang sesuai dapat dicapai melalui strategi pengurutan kegiatan, pelatihan dapat diawali dengan kegiatan yang sederhana atau mudah, dan kemudian makin lama menuju kegiatan yang makin rumit atau sulit. Petrini (1990) memberikan gambaran program pelatihan di alam bebas yang diawali dengan kegiatan yang sederhana dengan problem yang mudah diselesaikan, misalnya bagaimana caranya menyebrangi rawa-rawa beracun. Menjelang akhir program, peserta pelatihan bisa diberi tugas yang jauh lebih rumit misalnya misi SAR di mana mereka harus menggunakan berbagai ilmu yang sudah didapatkan pada kegiatan-kegiatan sebelumnya (seperti navigasi dengan kompas, mengendalikan rakit, membuat tangga dari tali untuk mengevakuasi korban, dsb). Dengan pengurutan seperti ini, peserta program dapat terhindarkan dari beban kognitif yang terlalu berat pada awal pelatihan karena beban kognitif yang terlalu berat tadi dapat memberikan pengaruh negatif pada proses belajar, hasil belajar, serta motivasi (van Merrienboer, Kirschner, & Kester, 2003).

* Proses Konstruktif – Elaborasi: Salah satu strategi yang dapat digunakan dalam program pelatihan untuk memastikan terjadinya proses konstruktif adalah dengan memberikan kesempatan pada peserta pelatihan untuk mengelaborasi atau mencari hubungan antara materi pelatihan dengan KSA (Knowledge, Skill, dan Ability) yang sudah mereka miliki karena hal ini telah terbukti merupakan cara yang efektif untuk memastikan bahwa materi pelatihan akan diingat lebih baik oleh peserta (Kehoe & Bright, 2003). Dalam konteks pelatihan di alam bebas, strategi ini bisa digunakan pada semua kegiatan. Semua pelatihan hampir selalu diikuti dengan sesi debriefing di mana peserta diberikan kesempatan untuk memberikan komentar mereka mengenai apa yang terjadi dalam kegiatan-kegiatan pelatihan dan apakah kegiatan tersebut memiliki makna pribadi bagi mereka (Galagan, 1987). Fasilitator yang baik seharusnya dapat membimbing peserta untuk berdiskusi mengenai apakah kegiatan yang dilakukan relevan dengan tujuan pelatihan. Information processing dalam sesi debriefing ini seharusnya merupakan kunci dari proses belajar bagi peserta pelatihan di alam bebas (Buller, Cragun, & McEvoy, 1991).

* Bimbingan – Penggunaan Umpan Balik: Umpan balik telah disepakati oleh para ahli sebagai bagian yang sangat penting dalam proses belajar (Kehoe & Bright, 2003). Dalam program pelatihan, umpan balik seringkali tidak diberikan secara formal oleh para fasilitator, melainkan diperoleh peserta dari kritik yang diterima (perilaku benar vs tidak benar) atau instruksi (bagaimana caranya untuk melakukan perilaku yang benar). Dalam konteks pelatihan di alam bebas, fokus lebih ditekankan pada umpan balik dari sesama peserta, terutama dalam bentuk kritik. Misalnya, Galagan (1987) memberikan contoh bahwa dalam salah satu kegiatan yang didesain khusus untuk itu, peserta diminta memberikan pendapat yang jujur mengenai sesama peserta. Diskusi dengan sendirinya terarah menjadi sesi umpan balik di mana setiap orang menerima kritik mengenai perilaku mereka dalam tim atau dalam hubungan interpersonal. Cara yang tidak seekstrim itu namun juga dapat menjadi sarana umpan balik dari sesama peserta adalah dengan memanfaatkan sesi debriefing yang diadakan setelah kegiatan selesai. Kelompok dapat diminta mengevaluasi mengapa mereka berhasil atau gagal menyelesaikan tugas yang diberikan (Petrini, 1990). Dalam sesi ini, problem di dalam kelompok akan ditemukan misalnya anggota kelompok mana yang tidak membantu (Long, 1987). Umpan balik yang efektif sebaiknya menggabungkan kritik dengan instruksi (Kehoe & Bright, 2003), karena itu sesi saling mengkritik seperti digambarkan di atas biasanya akan langsung dilanjutkan dengan sesi konstruktif di mana anggota kelompok dengan bantuan dari fasilitator mencari cara-cara untuk menghindari kesalahan yang sama pada kegiatan berikutnya. Sesi konstruktif ini juga dapat berfungsi sebagai zona netral karena sesi saling mengkritik ada kemungkinan menciptakan suasana defensif yang bisa memberikan pengaruh negatif pada prestasi kelompok. Dalam zona netral ini anggota kelompok (terutama mereka yang banyak menerima kritik) diberi kesempatan untuk berkontribusi dengan cara membantu menemukan solusi yang efektif untuk problem kelompok (Long, 1987).

Transfer dan Retrieval: Memastikan bahwa Hasil Pelatihan Diterapkan di Tempat Kerja
Salah satu kelemahan utama dari kebanyakan modul pelatihan adalah hasil dari proses belajar selama di pelatihan tidak tampak membantu karyawan meningkatkan hasil kerja setelah kembali ke tempat kerja. Hal ini mungkin disebabkan karena pelatihan tidak didesain untuk dapat ditransfer ke tempat kerja dan juga di tempat kerja tidak memiliki retrieval triggers. Kedua hal ini akan dibahas dalam paragraf-paragraf berikut ini.

Hasil belajar yang tidak dapat ditransfer ke tempat kerja merupakan salah satu kelemahan utama pelatihan di alam bebas karena pengalaman di alam bebas sangat unik dan berbeda dari pengalaman bekerja sehari-hari (Buller, Cragun, & McEvoy, 1991). Kegiatan dan konteks alam bebas yang unik ini di satu pihak membantu peserta untuk merasa lebih bebas dari peran mereka sehari-hari sehingga mereka lebih berani melakukan hal-hal yang baru dibandingkan dengan pelatihan biasa di dalam kelas (Long, 1987). Namun di lain pihak, konteks alam bebas ini bisa menjadi terlalu berbeda sehingga hasil belajar tidak dapat ditransfer tanpa adanya bantuan tambahan.



Tidak adanya kemiripan fisik antara lingkungan pelatihan dengan lingkungan kerja disebut low physical fidelity dan hal ini bisa menganggu proses transfer hasil belajar yang spesifik. Dalam kasus pelatihan di alam bebas, di mana transfer yang diharapkan lebih bersifat tidak spesifik, low physical fidelity seharusnya tidak menjadi masalah besar, terutama jika fasilitator memberikan alat-alat bantu untuk memudahkan transfer hasil belajar ke situasi yang berbeda dari situasi pelatihan (Kehoe & Bright, 2003).

Alat-alat bantu yang banyak digunakan dalam konteks pelatihan di alam bebas adalah penggunakan metafora atau analogi. Transfer didasarkan pada kesamaan struktur dari dua problem, bukan kesamaan fisik (Kehoe & Bright, 2003). Long (1987) mengajukan adanya beberapa aspek dari kegiatan di alam bebas yang merupakan analogi dari kegiatan di tempat kerja, misalnya:

* Dinamika kelompok: kerja sama dalam kelompok, komunikasi, saling mendukung antar anggota, kompetisi dengan kelompok lain, memanfaatkan sudut pandang yang berbeda untuk menyelesaikan masalah, dsb.
* Tantangan dalam bidang manajemen: bagaimana mengelola kelompok yang selalu berubah, menetapkan tujuan bersama, risk management, dsb.
* Keterbatasan lingkungan: anggota kelompok yang berada di lokasi yang berbeda-beda, keterbatasan sumber daya, sistem reward yang bersifat kompetitif, dsb.

Salah satu kendala utama dalam transfer analogi adalah individu seringkali terjebak pada apa yang tampak di permukaan dan sulit menemukan inti permasalahan. Hal ini disebut masalah kontekstualisasi dan pelatihan di alam bebas dapat menggunakan hal-hal berikut untuk mengatasinya (Kehoe & Bright, 2003):

* Variasi kasus: Pelatihan di alam bebas yang baik tidak akan mengandalkan satu kegiatan saja untuk mencapai tujuan pelatihan tertentu, melainkan akan memanfaatkan beberapa kegiatan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Misalnya, Galagan (1987) memberikan contoh kasus di mana tujuan pelatihan untuk ‘mengatasi rasa takut’ mula-mula diperkenalkan melalui kegiatan berjalan di jembatan tali dengan ketakutan fisik (takut jatuh) sebagai analogi untuk ketakutan di tempat kerja. Pada hari berikutnya, kegiatan lain pun diadakan dengan tujuan yang sama. Peserta diminta melakukan sesuatu yang kemungkinan besar akan ditertawakan oleh peserta yang lain, dan kali ini ketakutan psikologis (takut ditertawakan) yang menjadi analogi bagi ketakutan di tempat kerja.
* Mencari skema secara aktif: Strategi ini kembali memanfaatkan sesi debriefing. Peserta diminta untuk secara aktif memberikan komentar mengenai bagaimana kesimpulan yang didapatkan dari suatu kegiatan dapat diterapkan di tempat kerja (Buller, Cragun, & McEvoy, 1991). Dengan cara ini, peserta diharapkan tidak lagi terpaku pada konteks kegiatan di alam bebas melainkan memahami adanya kesamaan antara kegiatan pelatihan dengan kegiatan di tempat kerja.
* Solusi majemuk: Salah satu aspek lain yang cukup umum terdapat pada kegiatan pelatihan di alam bebas adalah tidak adanya jawaban pasti untuk masing-masing tugas yang diberikan. Dalam contoh menyebrangi rawa-rawa beracun yang telah disebutkan sebelumnya (Petrini, 1990), peserta bisa saja menciptakan jembatan gantung dari tali, menggunakan papan-papan sebagai jembatan, membuat rakit, atau menciptakan solusi lainnya selama masih memenuhi batas-batas yang diberikan fasilitator. Dengan demikian, peserta tidak terpaku mencari satu jawaban yang benar, dan dengan demikian diharapkan fokus pada kerja sama tim dapat dicapai.

Setelah peserta kembali di tempat kerja, bagaimana caranya mereka dapat ”mengingat” untuk menggunakan hasil belajar yang telah diperoleh di alam bebas? Banyak program pelatihan di alam bebas dilengkapi dengan cue yang akan membantu peserta mengubah materi pelatihan menjadi skema sehingga hasil belajar dapat segera diingat ketika situasi menuntut demikian (Kehoe & Bright, 2003).

Long (1987) memberikan contoh di mana retrieval hasil belajar dapat dilakukan dengan menggunakan cue yang sederhana seperti sepatah kata. Dalam contoh kasus yang diberikan, kata “spot” digunakan untuk mewakili kebutuhan individu untuk berhenti bekerja dan melakukan konsolidasi dengan anggota tim yang lain dengan tujuan meningkatkan kembali motivasi dan semangat kerja. Dalam kegiatan fisik, hal ini sangat relevan karena anggota tim bisa saja sewaktu-waktu berhenti dan minta “spot”. Anggota tim yang lain dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan, entah berupa bantuan fisik (seperti bantuan mengangkat rekan yang harus memanjat pohon) atau bantuan psikologis. Ketika tim kembali ke tempat kerja, sebenarnya tidak ada tuntutan fisik untuk saling melindungi dan mendukung antar anggota tim. Namun, jika seseorang menyebutkan “spot”, anggota tim yang lain akan segera mengingat pentingnya saling mendukung antara anggota tim sehingga akan lebih mudah bagi mereka untuk memberikan dukungan psikologis yang dibutuhkan.

EVALUASI

Seperti juga metode pelatihan lainnya, keberhasilan atau kegagalan pelatihan di alam bebas hanya dapat diketauhi setelah diadakannya proses evaluasi. Sayangnya, banyak perusahaan tidak melakukan evaluasi untuk program pelatihan di alam bebas yang mereka adakan, walaupun biayanya bisa mencapai 2,000 USD per orang (Wagner, Baldwin, & Roland, 1991). Kalaupun evaluasi dilakukan, kebanyakan hanya berupa evaluasi pribadi dari peserta pelatihan, yang menurut model Kirkpatrick (Tovey, 1997) tidak reliable jika tidak digabungkan dengan evaluasi jenis lain. Persentasi penggunakan metode evaluasi berdasarkan survei yang dilakukan oleh Wagner, Baldwin, & Roland (1991) adalah sebagai berikut:

Evaluasi pribadi dari peserta 60%
Tidak ada evaluasi 45%
Program follow-up 10%
Evaluasi dari manajer 5%
Data objektif 2%

Menurut model Kirkpatrick, secara ideal seharusnya ada empat tingkatan evaluasi untuk program pelatihan; yaitu (Tovey, 1997):

* Tingkat reaksi: Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ini merupakan cara yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi pelatihan di alam bebas dan kebanyakan peserta akan memberikan rating yang sangat baik untuk jenis pelatihan seperti ini (Galagan, 1987; Petrini, 1990).

* Tingkat Pembelajaran: Penilaian biasanya dilakukan selama atau di akhir program pelatihan untuk memastikan bahwa peserta telah benar-benar mempelajari KSA yang baru. Namun, hal ini jarang sekali dilakukan pada pelatihan di alam bebas. Sesi debriefing merupakan satu-satunya sarana untuk memperoleh bukti bahwa para peserta telah memperoleh insight sesuai dengan desain dari kegiatan di alam bebas tersebut (Long, 1987).

* Perubahan perilaku atau ketrampilan: Tingkat ini berusaha mengukur perubahan yang terjadi setelah peserta kembali di tempat kerja. Roland (dalam Wagner, Baldwin, & Roland, 1991) menyebutkan adanya sebuah penelitian yang mengevaluasi transfer dari pelatihan di alam bebas ke tempat kerja untuk para manajer tingkat menengah. Para peserta pelatihan melaporkan bahwa setelah pelatihan, mereka berinteraksi secara lebih efektif baik dengan atasan maupun bawahan dan juga mereka dapat mengelola waktu dengan lebih baik. Para atasan dan bawahan mereka juga memberikan kesimpulan yang sama. Selain penelitian ini, beberapa ahli lain juga mendukung bahwa pelatihan di alam bebas memang benar-benar dapat menghasilkan perubahan di tempat kerja (Long, 1987).

* Tingkat organisasi atau prestasi kerja: Belum ada penelitian yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pelatihan jenis ini pada organisasi secara keseluruhan. Banyaknya organisasi yang memilih menggunakan pelatihan jenis ini bisa menjadi indikasi bahwa organisasi-organisasi memiliki persepsi bahwa pelatihan di alam bebas bermanfaat bagi mereka (Wagner, Baldwin, & Roland, 1991).

Walaupun jumlahnya terbatas, bukti-bukti sejauh ini tampaknya mendukung bahwa pelatihan di alam bebas merupakan tipe pelatihan yang cukup efektif. Namun hingga evaluasi yang lebih sistematis telah dilakukan, akan sangat sulit bagi kita untuk memutuskan ketrampilan kerja seperti apa yang paling efektif dikembangkan melalui pelatihan metode ini.

Judul: sEKOLAH aLAM JOGJA
Ditulis oleh Nabz Outbound
Rating Blog 4.5 dari 5